Gathering Awal Tahun 2011 Komunitas Backpacker Dunia

Teman-teman Backpacker Dunia,
Sebanyak 70-an teman datang ke acara gathering bulan Januari ini.
Gathering awal tahun diadakan pada:
Hari/Tgl : Sabtu, 22 Januari 2011
Pukul : 11.00-19.00 (Ditutup pukul 16.00, tapi berlanjut hingga pukul 19.00)
Tempat: Pondok Penus – Taman Ismail Marzuki
Jl Cikini Raya No 73 Jakarta Pusat.
Acara gathering diisi dengan sharing info tentang pengalaman backpacking baik ke Asia Tenggara, China, Korea, Jepang, Australia dan Eropa oleh beberapa teman antara lain:
* Inda Suhendra
Kang Inda Suhendra bercerita tentang pengalamannya ke KL, Sabah, Serawak (Malaysia), Singapura, Vietnam, Cambodia, Thailand, juga ke Brunei Darussalam. Inda merasa backpacking sendirian ke luar negeri ternyata menarik karena lebih bebas, banyak menyerap pengalaman, dan ternyata tidak benar-benar sendirian, karena sepanjang perjalanan ia menemukan teman-teman baru, backpacker dari negara lain.
Kang Inda juga mengaku sering tidur di bandara,baik di Ho Chi Minh City Vietnam ataupun di Brunei Darussalam. “Saya pun sering difitnah sebagai orang kaya karena bisa jalan-jalan ke luar negeri. Padahal, saya dapat tiket pesawat Jakarta-Kinabalu cuma Rp 10.000 sekali jalan,” kata Kang Inda.
Ia juga merasakan dalamnya nilai kemanusiaan. Seperti saat tiba di Phnom Penh, ia menanyakan alamat Angkor Guest House kepada seorang bapak yang sedang menambal ban. Ternyata bapak itu seorang dokter dan bahkan bersedia memboncengnya menuju Angkor Guest House. Kebaikan hati pak dokter itu membuatnya terharu.
Foto-foto Asia Tenggara:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+south+east+asia&btnG=Telusuri&aq=f&aqi=&aql=&oq=* Adzanis
Mas Adzanis menekankan bahwa jika kita berpikir bisa, maka pasti bisa. Seperti halnya merealisasi keinginan ke luar negeri. Banyak orang masih berpikir bahwa keluar negeri itu adalah hal yang tak mungkin dilakukan atau sangat mahal, padahal sekarang ini banyak sekali penerbangan murah, dan kita bisa menginap di hostel atau guest house yang tidak mahal jika akan mengelilingi Asia Tenggara.
Mas Adzanis menceritakan pengalaman terbarunya ke Ho Chi Minh City (HCMC), Vietnam saat perayaan Idul Adha 2010 lalu. Saat usai shalat di sebuah masjid di HCMC, ia bertemu dengan seorang wartawan Indonesia yang mengajaknya untuk menjadi volunteer membagi-bagi hewat kurban bagi masyarakat Muslim Vietnam yang tinggal di kampong-kampung. Dari sini ia makin mengenal kehidupan Muslim di Vietnam.
Mas Adzanis juga sempat ke Manila dengan menggunakan pesawat murah hanya dengan tiket seharga Rp 600.000 untuk rute Jakarta-Manila pulang pergi dan menginap di guest house murah. Pengalaman naik keretaapi dari Bangkok ke Butterworth, Malaysia sangat berkesan. Saat tidur, hp mas Adzanis terjatuh. Saat pagi hari dibangunkan petugas, hp-nya yang diamankan petugas langsung dikembalikan pada mas Adzanis. “Orang-orang Thai mengenal karma, karena itu mereka berbuat baik,” katanya.
Hikmah yang diambil dari semua perjalanannya:
- menjadi mandiri bagaimana survive di negeri orang dan tidak semua orang JAHAT. Tetap ada orang-orang baik yang ditemui di perjalanan.
* Risa Bluesaphire – Penulis Buku “Cyber Love Adventure” bersetting Cina Selatan.
Mbak Risa juga sudah pergi ke Singapore, Malaysia, Thailand, Cambodia, Vietnam dan Cina. Jalan-jalan keliling Indonesia pun sering dilakukan tanpa “berpikir panjang”. Begitu ingin jalan, ya langsung jalan. Ia ke Cina Februari 2010 setelah menanggapi status Facebook seorang kontak bernama Ariy. Bersama Ariy pulalah akhirnya mbak Risa ke bbrp kota di Cina Selatan, dan kenal dengan komunitas CouchSurfing - CS (
http://www.couchsurfing.org), sebuah komunitas backpackers/travelers di seluruh dunia yang membuka rumahnya untuk diinapi gratis oleh backpackers/travelers yang lain.
“Saya gratis nginap di rumah member CS, breakfast atau dinner pun kadang-kadang gratis, pokoknya uang saya enggak laku,” kata mbak Risa.
Dalam novelnya mbak Risa memadukan antara kenyataan dan khayalan. Yang kenyataan tentulah cerita ttg kebaikan hati para host CS, yang khayalan adalah bagian lain dalam novelnya yang ia ramu sedemikian rupa.
Foto-foto Guangzhou:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+guangzhou&aq=f&aqi=&aql=&oq=* Claudia Kaunang – Penulis Buku “Keliling Singapore/Malaysia-Thailand/Macau-Hongkong-Shenzhen/Korea)
Mbak Claudia bercerita tentang pengalamannya ke Korea Selatan baru-baru ini. Ia mengunjungi beberapa kota di sana, antara lain, Seoul, Sokcho, Mt Seorak, Gyeongju, Busan, Seoul, Jeonju. Meskipun berangkat ke Korea Selatan tanpa pengetahuan tentang film-film Korea yang terkenal itu, mbak Claudia tetap bisa menikmati Korea. Bahkan menurutnya harga-harga di Korea lumayan terjangkau. Untuk akomodasi rata-rata yang ia dapatkan berkisar Rp 150.000/malam, menginapnya di apartemen yang diubah menjadi guest house. Makanan harganya sama dengan harga makanan di food court Jakarta. Pengurusan visa Korea Selatan pun tidak terlalu lama, asal persyaratan kita penuhi, maka visa jadi dalam seminggu, bahkan kurang. Untuk penerbangan, kini ada penerbangan murah untuk route Kuala Lumpur-Seoul seharga Rp 600.000. Atraksi turis bermacam-macam: istana-istana, wisata belanja, pegunungan, kota pelabuhan, dan masih banyak lagi.
Website:
http://www.korea.net/index.doFoto-foto Korea Selatan:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+south+korea&aq=f&aqi=&aql=&oq=* Astri Novia – Penulis Buku “Lucky Backpacker – Rp 3 Juta Keliling 5 Negara Eropa”
Mbak Astri Novia bercerita tentang pengalamannya ke Eropa. Cara yang ia tempuh untuk menggapai mimpinya ke Eropa adalah dengan menjadi “Au Pair” atau semacam pengasuh anak di Girona (1 jam dari Barcelona, Spanyol) selama 1,5 tahun. Selama itu itu dia benar-benar menjalankan pekerjaan. Banyak jalan menuju Eropa, mbak Astri berusaha mewujudkan keinginannya dengan caranya sendiri. Siapa tahu ada teman-teman backpacker berminat ke Eropa dengan cara serupa? Kenapa ia memilih bekerja di Spanyol? Alasannya karena calon pemberi kerja mau membayari tiket berangkat dan pulang dari Indonesia ke Eropa.
“Sebenarnya di Belanda banyak sekali yang meminta, tapi mereka tidak menyediakan tiket gratis, makanya saya lebih memilih ke Spanyol,” kata mbak Astri.
Pengalamannya di Eropa membuatnya merasa sangat beruntung, selain tiket dibayari, visa dibantu pengurusannya oleh si pemberi kerja, akomodasi pun gratis, mbak Astri sempat nonton konser Bon Jovie gratis, juga sempat menengok stadion Nou Camp, markas Barca!! Baru setelah kontraknya sebagai “Au Pair” selesai, dengan tabungan hasil bekerja, mbak Astri melanglang 5 negara di Eropa: Spanyol, Perancis, Belgia, Jerman dan Italia.
Foto-foto Spanyol:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+spainFoto-foto Perancis:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+france&aq=f&aqi=&aql=&oq=Foto-foto Belgia:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+belgium&aq=f&aqi=&aql=&oq=Foto-foto Jerman:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+germany&aq=f&aqi=&aql=&oq=Foto-foto Italia:
http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1259&bih=823&tbs=isch%3A1&sa=1&q=photos+of+italia&aq=f&aqi=&aql=&oq=* Ika Wulandari – Penulis Buku “Lost in Japan”
Mbak Ika menuturkan pengalamannya selama 12 hari menjelajah Jepang bersama kedua temannya: Cayi dan Qiqin. Ia bercerita bahwa jika bisa menyiasati dan mengumpulkan banyak informasi, traveling ke Jepang itu tidak harus mahal. Mbak Ika mematahkan anggapan bahwa pergi ke Jepang itu mahal. Ia bahkan sempat menginap di rumah member CouchSurfing/CS
http://www.couchsurfing.org di Tokyo, sempat di hostel murah dan di capsule hotel juga untuk menambah pengalaman di Jepang, gambarnya seperti ini:
http://www.google.co.id/images?hl=id&q=capsule+hotel+japan&wrapid=tlif129682600582111&um=1&ie=UTF-8&source=univ&ei=OP9LTfSaJ8TVrQeSlbHbBg&sa=X&oi=image_result_group&ct=title&resnum=1&ved=0CCUQsAQwAA&biw=1259&bih=823Ia bersama teman-temannya sempat terserang “mulas” gara-gara harus membayar tiket Sinkansen yang Rp 1,2 juta harganya sekali jalan. Tapi tak apa, namanya juga “membeli” pengalaman. Kota-kota yang sempat dilalui antara lain: Tokyo, Nagoya, Osaka, Kyoto.
* Fidi D Safitri
Mbak Fidi yang baru saja pulang dari Jepang juga menambahkan bahwa jalan-jalan di Jepang memang bisa disiasati agar mendapat harga murah. Untuk pesawat, ia membeli tiket pesawat murah beberapa bulan sebelumnya, dari Kuala Lumpur- Tokyo (Haneda) pulang pergi dengan harga Rp 600.000. Ia sempat mengikuti tour “Jelajah Jepang Tengah” – Nagoya (di FB “Jelajah Jepang Tengah”) selama 2 hari, setelah itu mbak Fidi memilih jalan-jalan sendiri. Menurut mbak Fidi, Jepang itu sangat bersih dan mudah dicapai dengan naik bus, subway atau jalan kaki saja. Yang menarik, mbak Fidi sempat mampir ke The Shirakawa Go Village, dekat Nagoya, sebuah desa kecil yang dipenuhi salju saat mbak Fidi tiba di sana.
Foto-foto Jepang:
http://www.google.co.id/images?hl=id&biw=1276&bih=823&wrapid=tlif129682617893921&q=photos+of+japan&um=1&ie=UTF-8&source=univ&ei=5f9LTbGhOIjprAek-YXaBg&sa=X&oi=image_result_group&ct=title&resnum=1&ved=0CDAQsAQwAABegitulah teman-teman Backpacker Dunia, resume Gathering awal tahun 2011 lalu.
Lain kali kita jumpa lagi, dengan sharing info lainnya.
Sampai jumpa,
elok dyah messwati
Come & Join Backpacker Dunia Community
“Ke Luar Negeri Bukan Lagi Mimpi”
Facebook: Backpacker Dunia
Twitter: @BackpackerDunia
Milis:
http://groups.yahoo.com/group/backpackerduniaBlog:
http://backpackerdunia.multiply.comEmail: Backpackerdunia@yahoo.com